Jumat, Juni 17, 2016

2448Re: [JAWA] Crita jroning Crito, oleh-oleh saka Banisrail

Salam taklim,

Udakara setahun kepungkur aku diuman-umani ambek netter saka Jepang: "Kenapa anda-anda lebih suka nonton momotaro-matsuri dibanding berkunjung ke Mesjid Kobe? Mengapa saudara-saudara lebih hafal huruf kanji dibanding ayat Qur'an? 

Apakah demikian itu sudah cukup buat perjalanan spiritual kita? Tahukah saudara-saudara apa yang tertulis di Mesjid Kobe itu? Siapa penulisnya? Siapa yang telah menyumbang untuk membangunnya?"... dst-dst... (ning ya mesthi wae ora pleg ngono, wong posting setahun kepungkur kok.)

Bakune penjenengane netter mau kepengin crita nek dhekne wis rumangsa nglakoni perjalanan spiritual nganggo sarana mlebu lan sembahyang nang Mesjid Kobe (sing paling gedhe ngguk Jepang beke). Lha ya dhasare Soeloyo, nek ora mbales posting ngono-ngono iku ora lega. Aku mbales nganggo crita:

"Perjalanan spiritual saya tidak punya terminal. Tidak punya tujuan fisik, karena sekarang saya sedang menempuh perjalanan di dunia mikroskopis. Saya sedang terkagum-kagum dan terpana dengan satu contoh proses penciptaan makhluk hidup. Proses terbentuknya sebutir biji anggur.

Biji anggur berasal dari 1 sel telur yang waktu masak, ratusan (bahkan ribuan) tepung sari tumbuh menjulur menuju ke padanya. Satu berhasil bertemu, yang lainnya berhenti bersaing, meluruh menyumbangkan kandungan jasadnya kepada si calon biji. Saya membayangkan yang terjadi pada manusia. Bukankah ini suatu perjalanan spiritual yang tak berujung? Karena telah membawa arah saya menuju asal-muasal saya.

Terjadinya saya bukankah suatu takdir? Coba seandainya dulu yang bergabung dengan sel telur separuh jasad saya bukan sel sperma yang membentuk separuh jasad saya, apakah akan ada saya? Maka, dalam perjalanan spiritual saya, lebih banyak membaca alam atau jejak-jejak keberadaan pencipta saya.

Di daerah Okayama Timur ada tempat bernama SHOUJA (tempat kumpulan peribadahan kepada Kami-sama). Di situ ada bukit kecil dengan kuil di puncaknya. Kuil itu berundakan batu hitam yang berat. Saya berfikir, "betapa orang jepang jaman dulu berusaha untuk mendekat kepada sesembahannya". Hal itu membawaku ingat keberadaan candi Borobudur, Prambanan, dan Dieng. betapa usaha para tetua orang jawa dulu dalam rangka mendekat kepada sesembahannya. Dan masih terang dalam ingatan saya kerika berkemah di tepi telaga Sarangan. Di salah satu sisi bukitnya ada mesjid kecil dengan air pancuran jernih untuk bersuci.

Di kala pagi, terdengar suara azan subuh yang bernada mirip tembang dhandhang-gula. Jemaah bersusah payah mencapainya karena kabut tebal selalu menyelimuti jalan menuju ke mesjid mungil (dulu bercat hijau). Hal ini membawa kenangan lebih dalam kepada jema-at Gereja Maria Asumpta, Klaten, yang menggubah pepujiannya dalam bentuk Gendhing Karawitan... Yang khusus ditujukan untuk para jema-at yang kurang faham dengan bahasa Indonesia lagu-lagu bercorak eropa. Sama hanya dengan acara Nglaras Madya dari RSPD Kab. Klaten tempo dulu, menggubah syair-syair samrah dan hadrah dalam tembang tembang Mocopat. Menjadi acara siraman rohani pendengar radio di pedesaan setiap malam Jum'at. (sekarang tidak ada lagi, sayang!).

Itulah contoh perjalanan spititual saya, kalau boleh diartikan perjalanan spiritual. Yang jelas saya tidak akan menyesal, seandainya jalan yang saya tempuh adalah keliru. Toh saya sudah mencoba dan sebagian menjalaninya dalam usaha mendekatkan diri kepada Pemilik semua jiwa atau spirit."

Weleh.... gayane. koyok yak-yako ae.. hehehee..

Salam,


mBah Soelojo [Sep 7, 2000]

Tidak ada komentar: