Tampilkan postingan dengan label atlantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label atlantis. Tampilkan semua postingan

Minggu, Desember 13, 2015

Air

Sory, nganggo boso Indonesia ya...

Ketika sedang mengamat-amati ke tajuk pohon mangga kepodang di depan rumah, tiba-tiba 'tesss!' setetes air hujan (yang mungkin menempel di salah satu daun mangga) jatuh tepat masuk ke mata. Tiba-tiba aku sadar, oh iya, hujan deras baru saja mereda.

Tapi, ya apa gunanya gitu lho, kok aku ini mengamat-amati tajuk pohon mangga? Ah, ingat pula aku. Aku ingin  meyakinkan bahwa buah mangga sisa yang tinggal 5 biji di tajuk mangga itu masih hijau atau sudah menguning. Sebab mangga kepodang kebanggaan keluarga Pagelaran itu hanya enak bila dipetik setelah semburat kuning di pohon.... (Ah, setetes air hujan saja ternyata mampu membuyarkan tujuan awal, tetapi mampu pula kembali membangkitkan ingatan-ingatan runtut yang masing-masing mengemban logika dan reason sendiri-sendiri.)

Untung saja yang masuk mata hanya setetes air hujan. Tidak terikut, misalnya seekor semut hitam yang asam memedihkan mata itu... lha terus?

Biasalah, pikiran ini memang kadang-kadang demikian. Ngelantur tidak karuan. Apalagi ketika wacana di dunia cyber menjadi hangat. Ada bahasan tentang keberadaan Tuhan, ada bahasan tentang tulisan Ulil..... ada wacana hukum Tuhan, hukum manusia, tendensi umum, kepantasan publik... bahkan  terakhir ada wacana bahwa al-Qur'an adalah penjelmaan Allah..... Wah, Tuhanku menjelma menjadi ayat-ayat? Maka tak ayal pikiranku segera ngelantur menelusuri asal-muasal tetes air hujan yang masuk ke mata tadi.

Kok bisa ada hujan? Dari mana datangnya hujan? Kenapa di dunia (bumi) ini harus pakai hujan segala? Hukum apakah yang menentukan hujan? Peluangkah? Secara kebetulankah? Atau memang harus terjadi begitu dan memang begitu? Ah, ternyata setetes air hujanpun mampu merangkum dan menyembunyikan beraneka ragam ajaran, berbagai macam pengetahuan. Tetes air hujan ternyata bukan hal sepele!

Hujan, menurut para ahli meteorologi dan geofisika bukankah terbentuk dari awan? Awan berkondensasi menjadi embun. Embun bertumpukan menjadi mendung? Tetapi dari mana datangnya awan? Dari uap air bukan? Uap air dari mana? Wah-wah-wah, ternyata sebagian besar uap air yang membentuk awan, membentuk mendung, berkondensasi menjadi hujan adalah berasal dari air laut dan samudra. Sebagian karena menguap akibat terkena sinar matahari, sebagian besar lagi menguap atas hasil kerja proses hidup biota laut, ganggang dan monera, milyaran binatang karang....

Sebagian lagi uap air naik dari permukaan bumi. Dari sumber-sumber mata air panas (geyser?) Dan sebagian besar lagi uap air yang menaik dari permukaan bumi akibat hasil proses hidup (respirasi dan transpirasi) makhluk hidup berupa hewan, tumbuhan dan manusia.

Lho, jadi air hujan itu sejatinya hanya air yang bergerak naik turun saja? Berubah wujud dari cair ke uap dan air lagi? Jadi ada dong air yang tidak pernah ikut naik-turun itu? Ada dong air yang terus-menerus langgeng melayang-layang diangkasa? Ya semua ada. Ada lagi air yang tersimpan di dalam perut bumi sejak pertama kali terbentuk di jaman geologi-kuno. Ada yang tersimpan jadi es dan salju abadi, tentunya. Ah, air. Air sebagai penghidupan bumi, ternyata beraneka macam wujud. Cair, gas, gas padat (salju), dan padatan sangat keras (es abadi). Jadi air selalu berubah, jangan sampai disembah.  

Terkesiap aku menggambarkan dan membayangkan betapa kumplit sarana dan fasilitas alam raya yang menyebabkan adanya hujan. Betapa tepat-nya kecepatan rotasi bumi di poros, tepat pula revolusi bumi mengitari matahari, rotasi dan revolusi ganda bulan, rotasi tatasurya, revolusi surya di poros galaksi. Revolusi galaksi di poros super galaksi..... Tetapi siapa yang mengelola? Siapa yang menetapkan? Pantaskah hanya berdasar hukum
serba kebetulan?

Betapa tak terbayangkan. Lihatlah bintang-bintang yang cemerlang itu. Atau kabut galaksi nun di atas sana. Berapa jaraknya ke bumi? Mereka itu sekarang masih ada atau hanya bekasnya saja? Terus di mana batas jagad raya?

Tiba-tiba aku sadar, bahwa aku hanyalah manusia yang wujudku tidak seberapa. Ibaratnya tidak sebanding dengan sebutir debu yang melekat pada sebutir pasir dari gurun pasir kosmos. Tiba-tiba aku mulai sedikit memahami sebagian yang dulu ditulis ULIL.  Bahwa Masih ada sebagian besar fenomena jagad raya yang tidak terangkum dalam kitab-kitab suci. Buktinya setetes air hujan yang masuk ke mataku, ibaratnya itu sebuah ayat atau mungkin hanya 'kata' atau bahkan 'hurf', telah melanturkan pikiranku kemana-mana. Seandainya aku memperhatikan yang lainnya, misalnya api, pasir, cahaya dan teja..... duh!

Yang jelas air adalah sesuatu yang tidak abadi. Demikian pun mata-airnya. Tidak akan abadi, seperti galaksi dan super-nova, yang sekarang terinderai seolah abadi dari bumi ini, ternyata masih tanda-tanya besar. Masih adakah zat mereka? Atau hanya jejaknya setelah menempuh perjalanan milyaran tahun teja?

Monggo bilih wonten ingkang ngersaaken PROPOLIS utawi MELIA BIYANG, kawulo aturi NYEKLIK www.kdpbiz.com/?page_id=217 utawi langsung ngunduh formulir pendaftaranipun ing NGRIKI kangge nggayuh pemetu Rp 5,950,000 sedinten.

Senin, Agustus 13, 2012

150 Abad Kepungkur


http://archivirtual.blogspot.com/2011/05/misteri-relief-candi-cetho-sukuh-dan.html

Begja kemayangan, ing sawijinging dina aku diundang ambek Pakdhe Bagiono melu teka ing "Diskusi Panel Budaya Bangsa Bahari" ing Libra Ballroom, Jakarta Executive Club, Sultan Hotel.
Lha lucune, sakdurunge aku entuk SMS undangan saka Pak Bag, kok ya aku iki mentas wae tuku buku "Kakawin Desa Warnnana Uthawi Nagara Krtagama" anggitane Prof. I Ketut Riana. Pas maca konsep NUSANTARA-ne Ki Patih Gajah Mada, eee onok SMS saka Pak Bag undangan iku. Mamula ya langsung wae tak iyani. 
Nah dina wingine, aku nang Gramedia ing Botani Square Bogor, klintong-klintong nemu buku judule: "Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indonesia dan Semenanjung Malaysia". Aha, isine akeh sing cocok, ning kudune diwalik. Sebab sing nulis priyayi Prancis, Paul Michel MUNOZ, kang mesthine pikirane utawa mind-set-é isih wong Lor, wong Eropa, kang wis kawit cilik nganggep nek asal-usule budaya iku saka Lor. Bangsa Nusantara kalebu Wong Jowo, jarene wong neneka saka Lor. Saka Vietnam apa piye ngono sing mangidul lewat Taiwan, Filipina, Sulawesi, Lombok, Bali, Jawa. Njut onok sing mengalor tekan Sumantrah utawa bablas mangulon tekan Afrika Timur. 
Nek miturut nalarku kudu diwalik. Dudu wong Jowo sing neneka saka Lor, ning Jowo sing nyebar nang endi-endi papan, terus kawin-mawin nang papan-papan mau dadi pirang-pirang suku bangsa sing onok empere ning akeh gesehe, utamane ing babagan bahasa. 
Lha saka para penyaji makalah (nara sumber) sing awan-e sesorah, ketoke mik makalahe Mas Radar Panca Dahana sing koyo-koyo memper karo sing dak entha-entha. Malah Mas Radar ngendika: "Kudu wani ngrombak kabeh sejarah dunia ngenani Nusantara".... Sebab sing dirembug dudu sejarah Nusantara 15 abad kepungkur ning 150 abad kepungkur. Ning yo iku, durung oleh bukti, sebab Mas Radar ora nulis 'sumber' pustakane. Utawa bukti-bukti kongkrit. 
Lha bar mangan, Mas Agung saka Yayasan Turonggo Seto, malah nganeh-anehi, nontonake foto-foto gambar relief candi Cetho ing Karanganyar. Ngendikane Mas Agung, "Sekitar 25000 sampai 17000 tahun yang lalu, bangsa Indonesia menguasai 2/3 dunia. Relief candi menunjukkan bahwa nenek moyang Indonesia
berhasil menundukkan bangsa-2 di Amerika Tengah, Sumeria, Cina, Eropa dan Afrika..." 
Weleh-weleh, sak mungguhna bener pangendikane Mas Agung, kudune Wong Jowo iki nate duwe kabudayan lan peradaban kang ngedap-edapi.. mik kari nggoleki carane nenek moyang Jowo mau bisa tekan endi-endi, numpak opo?  Sakliyane iku, Mas Agung uga ngendika yen kraton-kraton kang kasebut ing Babad Tanah Jawi, kaya ta: 'Giling Wesi', 'Medang Kamulan', 'Purwa Carita' ing tanah Jowo iki ora mik 'mitologi' ning bener-bener nate ono. Malah jare negara-negara ing pewayangan, kaya ta Hastina Pura, Magada, lan liya-liyane iku papan asline ya ing Nusantara utamane Jowo kene....
Ah, sak mungguhna bener.... artine sak suwene 100 abad iki, Nusantara bener-bener kepaten OBOR... malah saiki, malik dadi bangsa kang 'asor banget' merga kekungkung dening 'opo jare'... he he he he. Jarene wong Eropa, wong Jowo iku asale soko Cino Kidul, jarene Wong Eropa iku, wong Jowo diajadi agomo Hindu dening Resi Agastya... jarene, jarene, jarene.... ah embuh lah... 

Ki Denggleng Pagelaran
0819-31101719
Monggo sing ngersaake HERBAL TOP MARKOTOP, PROPOLIS lan MELIA BIYANG, dak aturi ORDER nang http://www.kdpbiz.com/?page_id=217. Formulir Pendaftaran biso diundunh nang KENE.

Senin, November 01, 2010

Jaran Kepang, Rohnya dari Gunung Merapi

http://devihankphie.files.wordpress.com/2010/02/lemuria-atlantis-worldmap.jpg


Nuwun sewu, nganggo boso Indonesia



Di rubrik Teropong Kompas hari ini tentang Suriname ada artikel berjudul: Jarang Kepang, Rohnya dari Gunung Merapi. Ada pernyataan yang "menggelikan" dari pimpinan grup seni Jaran Kepang Suriname itu, yang bernama Poidjojo, ketika ditanya tentang yang "menyurupi" para pemain asuhannya demikian: "Sing nyurupi niku saking negoro jowo, saking Gunung Srandil lan Gunung Merapi" (yang menyurupi itu dari negara jawa, Gunung Srandil dan Gunung Merapi).


Ditanya lagi, mengapa bukan roh dari Suriname? "Ya, bisa saja, tapi ndrawasi (menghawatirkan), masalahnya bukan apa-apa. Maksudnya roh-roh yang merasuki itu harus dipanggil dengan mantra berbahasa Jawa dan dupulangkan dengan gending-gending Jawa seperti "Waru Doyong" dan Sampak Guntur". Kalau roh yang merasuki tidak bisa berbahasa Jawa, nanti tidak bisa dipulangkan"....:-)

Selain ungkapan menggelikan itu, ada lagi kesimpulan pelapornya, "Begitulah kuda lumping telah terintegrasi sebagai bagian dari budaya Suriname (sebagai catatan kuda lumping dan reog juga hidup di negara bagian Johor, Malaysia). Betapa mereka merawat sang kuda lumping dan menjadikannya sebagai bagian dari budaya negeri benua Amerika itu.....

Nah di sini, kalau saya ingat-ingat tentang buku "Atlantis - Lost Continent Finally Found" yang ringkasannya ada di http://www.atlan.org/ jadi semakin plong dengan angan-angan saya sendiri... he he he, Sedang yang dibawa oleh para KOELIE saja bisa sedemikian mempengaruhinya budaya Nusantara (khususnya Jawa) ini di negeri lain. Apalagi jika dahulu kala budaya lengkap dengan peradaban dan teknologi BAHARI itu disebarkan secara sengaja oleh tokoh-tokoh Nusantara sekaliber pembangun Borobudur, Sukuh Cetho, Panataran, Prambanan dan Plaosan serta Dieng ke berbagai negeri... pastilah akan sangat menentukan corak dan gaya budaya negeri-2 yang didatangi oleh kapal-kapal Nusantara.


Kenapa bisa hilang? Bukti-bukti kecil baru saja bermunculan berupa bencana Tsunami Mentawai dan Wedhus Gembel Merapi. Di http://www.atlan.org/ itu disampaikan bahwa sebelum Sumatera - Jawa terpisah akibat letusan Krakatau Kuno, Nusantara adalah Atlantis. Bencana besar Krakatau Kuno menghabiskan hampir seluruh peradaban Atlantis Nusantara sehingga tinggal hanya dataran-dataran tinggi dan puncak-puncak gunungnya menjadi Benua Maritim Nusantara.

Orang-orang yang selamat dari bencana dan "nyangsang" di berbagai tempat berusaha membuat REPLIKA ATLANTIS lengkap dengan UBARAMPE-nya. Maka bangunan-2 kuno bisa mirip-mirip. Bentuk bangun Candi Sukuh bisa mirip "jebles" dengan yang ada di Mexico..:-). Di relief Sukuh dan Cetho ada bentuk kepala dengan raut wajah berbagai bangsa..... dalam posisi 'menyerah' kepada tokoh berpakaian WAYANG.. ha ha ha ha. Apa maknanya?Sebagai negeri di atas Cincin Api Pasifik, rupa-rupanya rona dunia ini ditentukan oleh gejolak alam Nusantara sejak jaman kuno.... itu yang ingin disampaikan oleh penulis buku Atlantis - Lost Continent Finally Found. Bencana Krakatau Kuno, katanya mengakhiri jaman Es... menenggelamkan 2/3 benua Atlantis.. menyisakan kepulauan Nusantara, sekaligus menyebarkan manusianya yang kebetulan 'nyangsang' di berbagai tempat, mengajarkan berbagai macam peradaban nusantara sambil ngaku "KAMI adalah ANAK DEWA" ha ha ha haaaa.... biar dituruti.... hissy.
Guyon ae....!!!